Latest
april
sudah bulan april lagi
kembali lagi ke titik nol di tahun yang berbeda
bahwa semuanya ini datang dengan tak diminta
entah semuanya itu akan pergi lagi atau tetap ada di sekeliling kita
katanya manusia tak usah khawatir berlebihan
…dan ketika terus mencoba memahami
manusia akan tersesat
ketika terus mencoba melawan
semua akan melelahkan
…karena semuanya datang tanpa diminta
Story from the salt farm in Sidoarjo
Took a glance on farmer’s family in salt farm Sidoarjo, the majority came from Madura Island, off the northeastern coast of Java. Most of them live nomadically , depends on which farm they have to work on.
“Most of the farmers are from Madura. The owners of this salt fields are from Surabaya or Sidorajo. In rainy season they work on ricefields in Madura, in the summer they work as salt farmers,” said one of the citizen around the village.
They bring all their family to live one place to another. Most of the children learn reading Qoran in Mosque instead of go to school. They spent their time playing around the village and salt field at noon, and at night they go to sleep in the hut.
They live with no electricity, no private toilet, no direct water supply. They have to collect clean water with gallon to their hut for drink and bathing instead run the tap. Toilet they are using were made traditionally from bamboo, with no ceramic-large-bowl for urinating or defecating. The feces become a massive pileup in the open-sewer and could be seen from outside.
More than that, they live with smile upon their face. They seems enjoy their childhood without noticing the modernisation outside the village. Even so, they also part of our modernisation. With salt, we have decent life.
Manusia Berperang
membelah angin
mengoyak kenyataan
membaca pikiran
menanyakan asal
bumi hanya tempat berpijak
langit tempat kita mendongak
kubur tempat kita berpulang
menenun kain harapan
bergantung pada mesin manusia
tidak sempurna untuk bisa jadi sempurna
hidup berdampingan
manusia dan manusia
saling manjaga hati
menciptakan keselarasan
dalam hati mendendam
marah pada diri sendiri
tidak belajar untuk melepaskan
hati tak mau bicara dan menghitam
manusia berperang
kalah dan menang bukan pilihan
hanya sebuah pembenaran
akhirnya kembali ke kubur
Biarkan mereka tertawa…
Mengamati setiap patah kata, gerak-gerik, dan ekspresi anak-anak membuat saya tersenyum senang. Saya terhibur ketika anak-anak itu menjadi apa adanya. Dengan polos dan senyum, atau bahkan marah dan tangis, mereka tetap menjadi diri mereka sendiri.
Bahkan tanpa takut, mereka meminta sesuatu yang tidak mungkin atau menanyakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh orang tua mereka. Lalu kebanyakan keinginan mereka yang besar itu akhirnya direspon negatif oleh orang tuanya.
Anak-anak itu akhirnya tumbuh dewasa diiringi dengan banyak aturan dan tuntutan. Dengan berbagai macam nilai, norma dan harapan untuk menjadi manusia yang ‘wajar’. Dengan berbagai macam kondisi yang mungkin bisa membuat mereka menjadi sosok sesuai keinginan mereka atau malah yang sering sesuai dengan keinginan orang lain.
Anak-anak memberikan saya kekuatan setiap hari untuk terus mencari dan terus mempertanyakan hal-hal yang sering terlupakan. Hal-hal yang luput diamati oleh orang kebanyakan. Mereka memberikan ide baru, pandangan baru, pemahaman baru terhadap hal-hal yang bahkan setiap hari kita jumpai. Hal-hal yang sederhana saja tetapi bisa membuat kita terpana. Anak-anak bisa tertarik hanya dengan kancing baju yang berwarna-warni. Mereka bisa tersenyum dan bangga ketika ia memilki mainan yang cuma dibeli di pasar. Mereka bisa menyanyi riang meskipun hanya sendirian tanpa ditemani siapapun. Mereka bisa sangat gembira ketika bisa naik meja dan menjadi lebih tinggi dari siapapun. Mereka cepat memaafkan dan melupakan kesalahan temannya. Momen indah ketika mereka mendapat makanan kecil bergambar binatang-binatang dan memakannya dengan lahap.
Menurut pengamatan saya di tengah kesibukan dunia ini, banyak orang setelah dewasa sulit untuk menjadi seperti anak kecil lagi. Tidak mudah namun saya beranggapan semua orang bisa untuk mempunyai waktu yang benar-benar menjadi diri sendiri meskipun hanya di kamar mandi, di pinggir jalan, di dalam mobil, ataupun di dalam imajinasi. Namun pertanyaanya apakah berani kita mencoba melepaskan diri dari harta, prestis, jabatan, pekerjaan, keriuhan yang selama ini kita miliki? Karena anak-anak tidak pernah menginginkan semuanya itu. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri dan bermain dalam dunianya. Dan itu bukan sebuah kesalahan….

…pagi-pagi
semut bernyanyi
burung menari
matahari dan matahati bertemu
mengayunkan langkah
lambat lambat lambat
merasakan keringat di bawah panas
hati bersenandung ceria
bersama alam dan ilalang di bawah langit biru
angin mewangi meniup rapi
tonggeret mengintip malu
dahan bergoyang tersipu
duniaku yang tanpa batas
mimpiku yang penuh makna
hidupku yang berwarna
menyambut sebuah pelukan bumi
menyatu dengan embun
kering bersama daun
**suatu pagi di kebun belakang
while listening to monkey song by endah n rhesa
Tak Terbatas
Reblogged from What the bug saw:
Mencoba melampaui segala yang bisa saya pikirkan tentang Tuhan, mengingat saya hanyalah debu kecil yang berada di alam semesta namun saya juga makhluk berarti di bumi
Tuhan tidak sebatas agama
Tuhan tidak sebatas percaya
Tuhan lebih besar dari apa yang kita anggap besar
Tuhan juga bisa menjadi sangat kecil dari apa yang kita anggap kecil
Tuhan bisa sebesar alam semesta namun Tuhan juga bisa sekecil amoeba…
…sebuah kisah
kisah sebuah jiwa yang kecil dan hampa
yang hanya ingin melihat dunia begitu luasnya
mendengar bulan mendongeng dimalam hari
melihat matahari menggoreskan sinar dihari-hari
menanti bintang tersenyum terang
dengan sepasang mata
menatap ke depan
hamparan perasaan
tak terbatas bagai lautan
berbekal memori
dan berpegang hati nurani
sebuah perasaan manusia
aku menikmati Tuhan
menyelami dalamnya nuansa
menyapa jiwa dunia dalam lautan
bersama makhluk kecil berwarna warni
dalam laut yang berombak
berenang dan bermain
aku melihat Tuhan
bermandikan surya
menjejak pasir di pantai
aroma kelapa
bernyanyi menari di atasnya
aku merasakan Tuhan
sejenak
dibawah malam
tidur melihat awan
angkasa terang benderang
lautan bintang dan perahu bulan
berlayar bersama nyanyian angin
meraba mencari dan menerawang
merasa bebas bertutur dan bernada
di sinilah Tuhan
mengikuti ombak hidup
tanpa tahu ada apa di palung terdalam
menerka dan berserah
hidup ini taruhan
belajar untuk terus mengarungi angkasa
dengan sunyinya ruang hampa
belajar untuk menjadi prajurit alam
It was a wonderful trip to Karimun Jawa





























